1:Pemprov DKI Breathe Cities Jakarta: Udara Bersih Dimulai dari Komunitas
Jakarta Barat Pemprov DKI Jakarta kembali menegaskan komitmennya terhadap pengendalian polusi udara melalui penguatan kerja sama dengan inisiatif global Breathe Cities Jakarta. Dalam pelaksanaannya, program ini menggandeng komunitas warga untuk memperkuat peran serta publik dalam mewujudkan Kawasan Rendah Emisi Terpadu (KRE-T).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengawasan dan edukasi. “Regulasi hanyalah fondasi. Pilar keberhasilannya terletak pada partisipasi warga,” ujarnya.
Breathe Cities Jakarta—yang merupakan kolaborasi antara Clean Air Fund, C40 Cities, dan Bloomberg Philanthropies—memanfaatkan sensor kualitas udara berbiaya rendah untuk menghadirkan data hiperlokal yang sebelumnya sulit diperoleh.
2. Pemprov DKI dan Komunitas Bersatu Wujudkan Jakarta Lebih Sehat
Jakarta, 19 Juni 2025 – Oleh Firman Siregar
Di tengah tantangan pencemaran udara perkotaan, Jakarta mengadopsi pendekatan baru berbasis kolaborasi antara teknologi dan partisipasi publik. Pemprov DKI bersama Breathe Cities Jakarta kini mendorong pengawasan kualitas udara berbasis komunitas melalui penggunaan sensor pintar.
Sensor ini dikembangkan bersama Resilience Development Initiative (RDI) dan dapat ditempatkan di lingkungan padat penduduk. “Kami ingin masyarakat menjadi produsen sekaligus pengguna data kualitas udara,” kata Asep Kuswanto dari Dinas Lingkungan Hidup.
Program ini menjadi bagian dari Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) dan Rencana Pembangunan Rendah Karbon, demi menciptakan kota yang ramah iklim dan sehat bagi semua.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini: Dominasi Cerah Berawan, Suhu Maksimal 31 Derajat
3: Jakarta Menuju Kota Bernafas Bersih Lewat Aksi Kolektif
19 Juni 2025 – Jakarta Green Update
Jakarta terus memperluas upaya pengendalian emisi dengan melibatkan masyarakat dalam rangkaian aksi kolektif, sebagai bagian dari pelaksanaan Kawasan Rendah Emisi Terpadu (KRE-T). Lewat kolaborasi dengan Breathe Cities Jakarta, pemerintah tidak lagi sekadar mengandalkan pendekatan top-down. Sensor low-cost kini menjadi senjata baru melawan polusi tersembunyi.
“Program ini bukan proyek jangka pendek. Ini adalah investasi sosial dan lingkungan bagi masa depan Jakarta,” jelas Asep Kuswanto.
4.Oleh Tim Jakarta Aktual – 19 Juni 2025
Dengan menggandeng komunitas lokal, Pemprov DKI bersama Breathe Cities Jakarta memperluas cakupan Kawasan Rendah Emisi melalui keterlibatan langsung warga.
Program ini menghadirkan pendekatan inovatif: bukan hanya membuat kebijakan, tetapi juga mendidik dan memberdayakan masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi. Edukasi, pemantauan, dan advokasi menjadi peran utama komunitas.
Menurut Asep Kuswanto, ini adalah bentuk demokratisasi pengendalian lingkungan.
5: Kolaborasi Iklim Jakarta: Dari Kebijakan ke Aksi Komunitas
Jakarta, 19 Juni 2025 – Perspektif Lingkungan
Keberhasilan strategi lingkungan Jakarta tidak lepas dari sinergi antara regulasi dan keterlibatan komunitas. Melalui kerja sama dengan Breathe Cities Jakarta, DKI menggagas integrasi teknologi dan aktivisme lingkungan untuk menurunkan tingkat emisi di wilayah urban.
Sensor low-cost menjadi alat utama dalam revolusi pemantauan kualitas udara.Yang mengubah realitas adalah aksi kolektif.”
Melalui pelatihan, dialog lintas komunitas, dan kampanye berbasis data, Jakarta mulai membentuk cetak biru baru untuk kota berkelanjutan: berbasis data, berorientasi publik, dan terintegrasi.








