Buka PNLG Forum 2025, Gubernur Pramono Tegaskan Komitmen Jakarta Bangun Ekonomi Biru Berkelanjutan
Jakarta Barat 24 jam– Suasana di Hotel Indonesia Kempinski pagi ini sarat dengan optimisme dan tekad kolektif. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi membuka Partnerships in Environmental Management for the Seas of East Asia (PEMSEA) Network of Local Government (PNLG) Forum 2025, menandai dimulainya sebuah pertemuan internasional penting yang menempatkan Jakarta sebagai episentrum diskusi ekonomi biru global.
Forum yang menghadirkan ratusan delegasi dari pemerintah daerah, pakar lingkungan, diplomat, dan pelaku industri dari berbagai negara ini bukan sekadar acara seremonial. Di hadapan para peserta, Gubernur Pramono menegaskan bahwa sebagai tuan rumah, Jakarta tidak hanya merasa terhormat, tetapi juga memikul tanggung jawab besar untuk memimpin oleh konkret dalam membangun ekonomi biru yang berkelanjutan dan inklusif.
Tantangan Megapolitan yang Berhadapan dengan Laut
Dalam pidato pembukaannya yang berapi-api, Gubernur Pramono tidak menutup-nutupi tantangan berat yang dihadapi Jakarta. Sebagai sebuah megapolitan sekaligus kota pesisir, ibukota Indonesia ini menghadapi realitas pahit: banjir rob yang semakin sering dan meluas, abrasi pantai yang menggerus garis pantai, polusi laut oleh sampah plastik dan limbah, serta dampak langsung perubahan iklim yang mengancam keberlangsungan hidup warganya.
“Kita tidak bisa menutup mata. Setiap tahun, air laut seolah semakin percaya diri memasuki daratan. Setiap tahun, kita berperang dengan sampah yang berakhir di laut kita. Ini adalah pertarungan nyata untuk masa depan kota ini,” ujar Pramono.

Baca Juga: Gubernur Pramono Anung Soroti 1.195 Kebakaran, Sebut Jakarta Butuh Pembenahan
Namun, di balik tantangan itu, tersembunyi peluang emas. Gubernur melihat masalah tersebut bukan sebagai akhir cerita, melainkan sebagai permulaan dari sebuah transformasi besar. Peluang itu, katanya, terletak pada pengembangan ekonomi biru—sebuah paradigma ekonomi yang memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan hidup, dan sekaligus melestarikan kesehatan ekosistem laut.
Harta Karun Jakarta yang Terlupakan: 120 Km Garis Pantai dan 113 Pulau
Gubernur Pramono mengungkapkan data yang sering terlupakan: Wilayah laut Jakarta seluas 6.977,5 km² dengan garis pantai sepanjang 120 km dan 113 pulau adalah “harta karun yang akan menentukan wajah baru Jakarta.”
“Laut kita bukanlah tempat pembuangan akhir. Ia adalah ruang hidup, sumber pangan, pusat energi terbarukan, dan motor penggerak ekonomi baru. Laut adalah masa depan Jakarta,” tegasnya dengan penuh keyakinan.
Komitmen ini, menurutnya, telah diinternalisasi ke dalam rencana pembangunan Jakarta. RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) DKI Jakarta telah menempatkan lingkungan hidup dan ekonomi biru sebagai arus utama (mainstream) transformasi menuju kota global yang berkelanjutan. Ini berarti setiap kebijakan, dari tata ruang, transportasi, hingga pengelolaan sampah, harus mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem pesisir dan laut.
Menghubungkan Iklim, Alam, dan Energi untuk Ketahanan Pesisir
Mengusung tema “Towards a Sustainable and Inclusive Blue Economy: Linking Climate, Nature and Energy”, forum PNLG 2025 menekankan pendekatan yang terintegrasi. Tema ini menyoroti bahwa solusi untuk ekonomi biru tidak bisa berdiri sendiri; aksi iklim, konservasi alam, dan transisi energi harus saling terkait untuk membangun ketahanan masyarakat pesisir yang tangguh.
“Kita tidak bisa hanya menanam mangrove tanpa memikirkan mata pencaharian nelayan yang terdampak. Kita tidak bisa bicara energi hijau tanpa melibatkan masyarakat pulau. Inklusivitas adalah kunci. Ekonomi biru harus menjadi ekonomi untuk semua,” papar Pramono.
Dari Pidato ke Aksi: Wacana Jakarta di Panggung Global
Pembukaan PNLG Forum 2025 ini bukan hanya sekadar kata-kata. Beberapa inisiatif nyata sudah mulai digulirkan dan diperkenalkan dalam forum ini, antara lain:
-
Proyek Percontohan Energi Terbarukan di Pulau-Pulau: Pemanfaatan energi surya dan potensi arus laut untuk menyuplai listrik bagi masyarakat di Kepulauan Seribu, mengurangi ketergantungan pada generator diesel.
-
Ekowisata Berbasis Konservasi Mangrove: Pengembangan wisata yang memberdayakan masyarakat lokal untuk menjaga dan merestorasi hutan mangrove sebagai benteng alami terhadap abrasi dan penyimpan karbon.
-
Inovasi Penanganan Sampah Plastik: Kolaborasi dengan startup dan industri daur ulang untuk mencegah kebocoran sampah plastik dari sungai-sungai ke laut, mengubah sampah menjadi sumber ekonomi sirkular.
Seorang pakar ekonomi kelautan yang hadir, Prof. Dr. Amanda Wijaya, menyambut baik komitmen Pemprov DKI. “Pidato Gubernur Pramono sangat visioner. Yang sekarang dibutuhkan adalah konsistensi implementasi. Forum seperti PNLG adalah platform sempurna untuk Jakarta belajar dari kesuksesan dan kegagalan kota-kota pesisir lain di Asia, sekaligus menunjukkan kepemimpinan mereka. Investasi di ekonomi biru adalah investasi dengan multiplier effect tertinggi untuk kota-kota seperti Jakarta,” ujarnya.
Sebuah Langkah Awal Menuju Jakarta Baru
Pembukaan PNLG Forum 2025 hari ini adalah sebuah deklarasi. Sebuah pernyataan kepada dunia bahwa Jakarta serius untuk berubah, dari kota yang sering berperang dengan laut, menjadi kota yang hidup secara harmonis dan memanfaatkan potensinya secara bijaksana.
Perjalanan masih panjang dan berliku, tetapi dengan membuka diri pada kolaborasi internasional, meneguhkan komitmen politik pada level tertinggi, dan merancang strategi yang inklusif, Jakarta telah melangkah dengan pasti. Forum ini diharapkan tidak hanya menghasilkan deklarasi dan nota kesepahaman, tetapi juga aksi nyata yang akan dirasakan oleh nelayan di Pulau Kelapa, masyarakat di pesisir Marunda, dan seluruh warga Jakarta yang mendambakan kota yang lebih hijau, biru, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.












