Indosat Indosat Indosat

Kota Jakarta Berjuang Atasi Genangan di Joglo Usai Diguyur Hujan Lebat

Kota Jakarta Berjuang Atasi Genangan di Joglo Usai Diguyur Hujan Lebat

Indosat

Jakarta Diguyur Hujan, Joglo Jakbar Terendam: Sebuah Pengingat di Tengah Genangan 20 CM

Jakarta Barat 24 Jam– Kota metropolitan yang tak pernah tidur, kembali menghela napas berat. Pada Senin (29/9/2025) siang hingga malam, langit ibu kota mendung kelam lalu mengguyurkan hujan yang tak hanya membasahi bumi, tetapi juga kembali menguji ketangguhan sistem drainase dan kesiapan ibu kota dalam menghadapi ancaman banjir. Imbasnya, dua ruas jalan di kawasan Joglo, Jakarta Barat, terpaksa menyerah, terendam genangan air yang mengganggu lalu lintas dan aktivitas warga.

Berdasarkan data dari Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, M. Yohan, genangan yang terjadi memiliki ketinggian yang bervariasi, antara 15 hingga 20 sentimeter. Meski tidak termasuk dalam kategori banjir parah, genangan setinggi lutut orang dewasa ini cukup untuk mengacaukan mobilitas kendaraan roda dua dan menghambat laju kendaraan roda empat.

Indosat

“Dua ruas jalan yang terdampak adalah Jalan Strategi Raya dan Jalan Basoka Raya, keduanya terletak di Kelurahan Joglo, Jakarta Barat,” jelas Yohan, seperti dikutip dalam rilis resminya.

Dari Data Menjadi Realita: Suasana di Lokasi Genangan

Jika kita membayangkan berada di lokasi, pemandangan yang terlihat adalah kolam genangan yang membentang di permukaan jalan. Pengendara motor terpaksa menepi, berusaha mencari celah dengan ketinggian air yang paling rendah. Sementara mobil melaju dengan pelan, menciptakan riak-riak air yang menerpa trotoar. Beberapa pejalan kaki terlihat mengangkat celana mereka, berhati-hati melangkah untuk menghindari cipratan air kotor.

Jakbar Diguyur Hujan, 2 Ruas Jalan di Joglo Terendam Banjir : Okezone News

Baca Juga: Kronologi Kebakaran di Kalideres Tewaskan 2 Orang, Korban Terjebak di Kamar

“Tadi siang hujan deras sekali sekitar satu jam lebih. Perlahan-lahan, air dari selokan sudah tidak bisa turun dan mulai meluap ke jalan. Ini sebenarnya sudah sering, terutama kalau hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat,” ujar Andi, seorang pedagang kaki lima di sekitar Jalan Basoka Raya, dalam wawancara tiruan yang menggambarkan keluhan umum warga. “Kadang surutnya lama, tergantung apakah pompa penyedot cepat datang atau tidak.”

Respon Cepat: Pengerahan Personel dan Koordinasi Antar Dinas

Menghadapi kondisi ini, BPBD DKI Jakarta tidak tinggal diam. Mereka langsung mengerahkan personelnya untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah. Yang lebih penting, dilakukan koordinasi intensif dengan unsur-unsur teknis terkait.

BPBD mengoordinasikan:

  • Dinas Sumber Daya Air (SDA): Bertanggung jawab untuk memastikan saluran air dan tali-tali air (saluran primer dan sekunder) berfungsi dengan optimal. Penyumbatan di titik-titik kritis menjadi perhatian utama.

  • Dinas Bina Marga: Fokus pada kondisi jalan dan drainase jalan yang menjadi wewenangnya. Mereka memeriksa apakah gorong-gorong di bawah jalan berjalan lancar.

  • Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat): Dikerahkan dengan membawa pumping unit atau mobil penyedot air untuk mempercepat penurunan genangan.

Koordinasi ini juga melibatkan para lurah dan camat setempat, yang memahami betul kondisi lapangan di wilayahnya. Dengan sinergi ini, penyedotan genangan dilakukan secara terarah. Targetnya jelas: genangan harus surut dalam waktu yang cepat untuk memulihkan arus lalu lintas dan ketenangan warga. Selain itu, BPBD juga menyiapkan kebutuhan dasar bagi penyintas—sebutan bagi warga yang terdampak—seandainya genangan berkembang menjadi lebih parah dan memaksa relokasi.

Lebih Dalam dari Genangan: Akar Persoalan yang Berulang

Kejadian di Joglo ini ibarat potret mini dari masalah besar Jakarta. Genangan 15-20 cm di dua ruas jalan tertentu bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Beberapa faktor yang kerap menjadi biang keladi adalah:

  1. Kapasitas Drainase yang Terbatas: Sistem drainase di banyak titik di Jakarta, termasuk mungkin di Joglo, seringkali tidak lagi memadai untuk menampung volume air hujan dengan intensitas tinggi. Faktor pendangkalan akibat sedimentasi dan sampah juga memperparah kondisi ini.

  2. Perubahan Tata Guna Lahan: Semakin banyak daerah resapan air di Jakarta yang beralih fungsi menjadi permukaan kedap air, seperti perumahan, gedung, dan jalan aspal. Air hujan yang seharusnya meresap ke tanah, kini langsung melimpas ke saluran air, membebani sistem yang sudah terbatas.

  3. Sampah yang Menyumbat: Budaya membuang sampah sembarangan, meski sudah sering disosialisasikan, masih menjadi musuh bersama. Sampah, terutama plastik, dengan mudahnya menyumbat gorong-gorong dan mulut saluran, menyebabkan air meluap dengan cepat.

Imbauan untuk Masyarakat: Kewaspadaan adalah Kunci

Dalam menghadapi musim hujan yang tidak terduga, BPBD DKI Jakarta kembali mengingatkan peran serta masyarakat. Masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan, terutama ketika hujan dengan intensitas lebat mengguyur dalam durasi panjang.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  • Memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari sumber resmi.

  • Menghindari berkendara di area yang terkena genangan untuk mencegah kerusakan kendaraan dan risiko kesetrum.

  • Menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Yang paling krusial, BPBD mengingatkan: “Dalam keadaan darurat, segera hubungi nomor telepon 112.” Layanan call center 112 ini gratis dan beroperasi selama 24 jam non-stop, siap merespons keluhan dan permintaan bantuan dari warga.

Penutup: Belajar dari Genangan di Joglo

Genangan di Jalan Strategi Raya dan Basoka Raya mungkin telah surut dalam beberapa jam, seperti yang ditargetkan. Namun, pelajaran yang ditinggalkannya haruslah tetap melekat. Peristiwa ini adalah pengingat berharga bahwa pembenahan sistem drainase, penegakan aturan tata ruang, dan perubahan perilaku masyarakat harus berjalan beriringan. Jakarta, dengan segala kompleksitasnya, membutuhkan ketangguhan yang tidak hanya dibangun di saat krisis, tetapi melalui konsistensi dan komitmen kolektif di setiap hari cerah, untuk memastikan bahwa guyuran hujan tidak lagi menjadi ancaman, melainkan berkah yang disambut dengan infrastruktur yang siap dan masyarakat yang tangguh.

Indosat