Jakarta Barat 24 Jam — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menjelaskan alasan masih maraknya kebakaran di wilayah Ibu Kota, meskipun program satu RT satu alat pemadam api ringan (APAR) sudah berjalan sejak tahun lalu. Menurut Pramono, kondisi lingkungan yang padat penduduk, keterbatasan akses, serta faktor cuaca menjadi tantangan besar dalam penanganan kebakaran. Ia mencontohkan insiden kebakaran yang terjadi di kawasan Tamansari, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu. “Masih berjalan. Hanya memang dalam kondisi seperti ini, apalagi yang kebakar kebanyakan plastik, sampah, dan sebagainya, pasti nggak terkejar. Apalagi dengan kepadatan, dan kemarin saya mendapatkan laporan dari Kepala Dinas Damkar, apinya itu cepat sekali karena angin,” ujar Pramono saat ditemui di Jakarta Barat, Selasa.
Pramono menegaskan, program APAR tetap menjadi salah satu instrumen penting untuk pencegahan dini. Namun, ia mengakui bahwa dalam kasus kebakaran berskala besar, kecepatan api sering kali melampaui kemampuan penanganan manual warga. “APAR sangat efektif untuk kebakaran kecil, misalnya korsleting listrik atau api yang baru muncul. Tapi kalau api sudah membesar, tetap butuh mobil pemadam dan sistem hydrant yang memadai,” tambahnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Ima Mahdiah, meminta agar Pemprov DKI tidak hanya fokus pada distribusi APAR, tetapi juga mengupayakan penyediaan hydrant di kawasan permukiman padat. Menurutnya, hydrant publik bisa menjadi solusi jangka panjang. “Pengadaan hydrant tidak bisa sembarangan. Perlu dipastikan titik-titik mana yang bisa menyediakan air secara konsisten. Jadi harus dicek dulu, kira-kira cocoknya hydrant atau APAR,” ujarnya.
Baca Juga : Dunia Digital Menjadi Ladang Baru Kejahatan, Dua Pemuda Jakarta Barat Diciduk Polisi
Program satu RT satu APAR sendiri telah dituangkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta yang ditandatangani Pramono. Melalui aturan tersebut, ditargetkan pada Agustus 2025 setiap RT di Jakarta sudah memiliki minimal satu unit APAR untuk pencegahan kebakaran.
Kendati demikian, hingga kini Pramono belum merinci secara detail berapa jumlah RT di Jakarta yang sudah menerima dan menggunakan APAR sesuai target. Ia hanya memastikan bahwa Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) bersama pemerintah kota/kabupaten administrasi terus mendistribusikan peralatan tersebut.
Selain itu, Pemprov DKI juga tengah menggodok rencana pelatihan khusus bagi pengurus RT dan warga dalam penggunaan APAR. “Tidak hanya alatnya yang harus ada, tapi masyarakat juga harus tahu cara menggunakannya. Ini akan kami masukkan ke dalam program pelatihan warga, supaya kesiapsiagaan meningkat,” tutur Pramono.
Ke depan, Pemprov DKI berencana melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas program ini, termasuk pemetaan wilayah dengan risiko tinggi kebakaran. Dengan kolaborasi antara pemerintah, DPRD, dan masyarakat, diharapkan angka kebakaran dapat ditekan sekaligus meningkatkan budaya pencegahan di tengah masyarakat Jakarta.


