Indosat Indosat Indosat

Di Jantung Permukiman Jakbar, Percepatan Drainase Arjuna Selatan Picu Konflik Lalu Lintas

Di Jantung Permukiman Jakbar, Percepatan Drainase Arjuna Selatan Picu Konflik Lalu Lintas

Indosat

Percepatan Drainase Jalan Arjuna Selatan: Solusi Atasi Genangan dan Ujian bagi Harmoni Lalu Lintas Jakbar

Jakarta Barat 24 Jam– Di jantung Jakarta Barat, tepatnya di sepanjang Jalan Arjuna Selatan, Kebon Jeruk, sebuah transformasi tengah berlangsung dengan cepat. Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Jakarta Barat menginjak pedal gas untuk menyelesaikan proyek pembuatan drainase yang menjadi harapan baru bagi warga dalam mengatasi persoalan genangan air yang telah lama mengganggu. Dari yang semula ditargetkan selesai pada 15 Desember 2025, proyek vital ini kini dipacu untuk bisa beres jauh lebih cepat, yakni pada pertengahan November 2025.

Dengarkan Keluhan Warga, Percepatan Jadi Prioritas

Komitmen percepatan ini bukan tanpa alasan. Kepala Sudin SDA Jakarta Barat, Purwanti Suryandari, menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai respons langsung atas keluhan masyarakat, khususnya para penghuni kompleks perumahan di kawasan tersebut, yang kerap direpotkan oleh genangan air.

Indosat

“Itu kan dimulai awal Oktober 2025, sebenarnya pembangunan selesai 15 Desember 2025, tapi kita percepat. Dalam satu bulan ke depan, ditargetkan selesai. Jadi, bisa beres pertengahan November 2025,” ujar Purwanti melalui pesan singkat pada hari Senin.

Sudin SDA Jakbar percepat pembuatan drainase Jalan Arjuna Selatan - ANTARA News

Baca Juga: Di Tengah Kesibukan Pimpinan Koarmada III, Laksda TNI Hudiarto Raih Gelar Doktor Cumlaude

Ia menambahkan, “Kita sudah dengar keluhan itu, makanya pembangunan (drainase) dipercepat. Tapi memang drainase harus dibuat, soalnya area itu rawan genangan.”

Pernyataan ini menggarisbawahi dua hal: pertama, kepekaan pemerintah daerah terhadap aspirasi warga, dan kedua, pengakuan akan kondisi geografis kawasan yang memang rentan terhadap banjir dan genangan. Pembuatan drainase baru ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang yang mampu mengalirkan air dengan lebih efektif, sehingga kenyamanan dan keamanan warga dapat terjamin, terutama ketika musim hujan tiba.

Dampak Pengalihan Lalu Lintas: Ujian Kesabaran Warga Permukiman

Namun, di balik percepatan yang patut diapresiasi ini, muncul konsekuensi logis yang harus dihadapi: gangguan lalu lintas. Penutupan sebagian Jalan Arjuna Selatan untuk keperluan pembangunan mengharuskan kendaraan dialihkan. Rute alternatif yang ditetapkan adalah melalui Jalan Asem dan Jalan Kemiri.

Sayangnya, pengalihan ini justru memicu masalah baru di tingkat komunitas. Jalan Asem dan Jalan Kemiri, yang pada hakikatnya adalah jalan lingkungan perumahan dengan tubuh jalan yang sempit, tiba-tiba dibebani oleh arus kendaraan, termasuk mobil, yang mencari jalan pintas untuk menghindari kemacetan di rute utama seperti Jalan Panjang.

Seorang warga Jalan Kemiri, Ansor (36), dengan jelas melukiskan keresahan yang dirasakan. Ia menjelaskan bahwa dalam skenario pengalihan, seharusnya hanya kendaraan roda dua yang diizinkan melintas di Jalan Kemiri untuk keperluan warga setempat. Realitanya, banyak pengendara roda empat dari arah Grogol menuju Kebon Jeruk yang “bandel” dan memaksa masuk.

“Harusnya kan mobil muter ke Jalan Panjang, tapi macet, jadi kadang ada yang bandel masuk sini (Jalan Kemiri). Bikin macet kan jadinya,” keluh Ansor pada Jumat (10/10). “Kalau sepeda motor sih lewat aja. Cuma kan kalau mobil, dalam pengalihan itu kan enggak boleh sebenarnya lewat sini. Jadinya bikin macet.”

Keluhan Ansor adalah suara yang mewakili banyak warga lainnya. Kehadiran mobil-mobil “nakal” ini tidak hanya menyebabkan kemacetan di jalan yang sempit, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan pejalan kaki dan anak-anak yang bermain di lingkungan mereka. Kedamaian kawasan permukiman tergusur oleh hiruk-pikuk lalu lintas yang seharusnya tidak terjadi.

Indosat