Proyek Drainase Pos Pengumben: Antara Solusi Banjir dan Ujian Kesabaran Warga
Jakarta Barat 24 Jam– Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jakarta Barat, tepatnya di sepanjang Jalan Pos Pengumben, Kebon Jeruk, sebuah proyek infrastruktur penting sedang berlangsung. Proyek galian drainase sepanjang 150 meter ini, yang membentang dari pertigaan Jalan Pos Pengumben Dalam hingga depan SDN Kelapa Dua 06, dirancang sebagai solusi atas masalah banjir yang kerap melanda kawasan tersebut. Namun, di balik niat baik pemerintah, proyek yang berdurasi panjang hingga Desember 2025 ini justru menuai keluhan dari warga yang harus menjalani keseharian mereka di tengah debu, kemacetan, dan kebisingan.
Wajah Proyek: Debu dan Kemacetan yang Menyita Kesabaran
Bagi para pengguna jalan dan pelaku usaha di sekitar Pos Pengumben, proyek yang telah berjalan sepekan ini telah mengubah lanskap keseharian mereka. Syafrizal (43), seorang petugas keamanan di salah satu ruko, dengan gambaran mengungkapkan dampak langsung yang dirasakan.
“Berisik enggak, tapi debunya lumayan tebal. Apalagi pas siang,” ujarnya. Debu beterbangan menjadi “teman” baru yang tak diundang, menempel di kendaraan, masuk ke dalam ruko, dan mengganggu kenyamanan bernapas, terutama saat terik matahari mengeringkan tanah galian.
Namun, keluhan utama bukan hanya soal debu. Proyek yang memakan satu lajur jalan ini telah menyempitkan ruang lalu lintas, menyisakan hanya satu lajur untuk dilewati kendaraan dari dua arah. Konsekuensinya, kemacetan menjadi mimpi buruk baru, terutama pada jam-jam sibuk.
Baca Juga: Di Jantung Permukiman Jakbar, Percepatan Drainase Arjuna Selatan Picu Konflik Lalu Lintas
“Kalau pagi enggak terlalu macet karena ramainya ke arah seberang. Apalagi galian ini besar,” kata Syafrizal, menjelaskan bahwa beban terberat terjadi pada sore hari. Kemacetan terparah menghantam saat arus kendaraan dari arah Jakarta pusat memadati jalan yang sudah menyempit ini untuk menuju kawasan Joglo maupun Ciledug. Waktu tempuh yang biasanya singkat bisa melonjak berkali-kali lipat, menyita waktu dan menambah stres para pengendara yang hendak pulang ke rumah setelah seharian beraktivitas.
Suara Pemerintah: Sebuah Kebutuhan yang Tak Terelakkan
Di tengah segunung keluhan, Pemerintah Kota Jakarta Barat, melalui Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA), bukannya tutup telinga. Mereka menyadari sepenuhnya dampak gangguan yang ditimbulkan. Namun, mereka menegaskan bahwa proyek ini adalah sebuah keharusan.
Purwanti Suryandari, Kepala Sudin SDA Jakarta Barat, memaparkan alasan mendasar di balik proyek ini: kawasan Pos Pengumben adalah area rawan banjir. Saluran air yang ada dinilai belum memadai untuk menanggulangi genangan air yang kerap terjadi.
“Daerah genangan, sebagian belum ada saluran,” jelas Purwanti.
Tekanan untuk membangun drainase ini tidak hanya datang dari analisis teknis, tetapi juga dari suara masyarakat yang disalurkan melalui dua jalur formal. Pertama, keluhan warga yang terus berdatangan melalui aplikasi Cepat Respons Masyarakat (CRM). Kedua, proyek ini telah dibahas dan mendapatkan legitimasi melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan reses anggota DPRD. Artinya, proyek ini dianggap sebagai respons atas aspirasi yang disampaikan langsung oleh warga.
Dengan target penyelesaian pada 15 Desember 2025, proyek ini adalah investasi jangka panjang. Pemerintah meminta kesabaran dan pengertian warga, dengan imbalan janji kawasan yang lebih tahan banjir di masa depan.












