Indosat Indosat Indosat

Gubernur Pramono Anung Soroti 1.195 Kebakaran, Sebut Jakarta Butuh Pembenahan

Gubernur Pramono Anung Soroti 1.195 Kebakaran, Sebut Jakarta Butuh Pembenahan

Indosat

Pramono Anung Soroti 1.195 Kebakaran, Jakarta Butuh Pembenahan Mendesak

Jakarta Barat 24 Jam– Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara terbuka mengakui bahwa Ibu Kota masih memiliki banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus segera dibenahi. Pernyataan tegas ini disampaikannya setelah menilik tingginya angka kejadian kebakaran yang melanda Jakarta sepanjang periode Januari hingga September 2025, yang telah mencapa 1.195 insiden.

“Terjadinya peristiwa kebakaran mengindikasikan sejumlah pekerjaan rumah yang belum terselesaikan,” ujar Pramono Anung di Kantor Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Pusat, pada Senin (15/9). Kunjungan dan pernyataannya ini menegaskan keseriusannya dalam menyikapi persoalan yang kerap merenggut nyawa dan harta benda warga ini.

Indosat

Akar Masalah: Pencegahan yang Belum Optimal dan Sistem yang Tak Berfungsi

Dalam pemaparannya, Pramono Anung tidak hanya menyoroti jumlah insiden, tetapi lebih jauh mengulik akar permasalahannya. Ia menyatakan bahwa implementasi program pencegahan kebakaran belum terlaksana secara optimal. Hal ini menjadi titik krusial, mengingat pencegahan seharusnya menjadi ujung tombak dalam menekan angka kejadian.

Gubernur Pramono Anung Soroti 1.195 Kebakaran, Sebut Jakarta Butuh Pembenahan
Gubernur Pramono Anung Soroti 1.195 Kebakaran, Sebut Jakarta Butuh Pembenahan

Baca Juga: Pertengahan Juni, AMK Korban Penyiksaan Ditemukan Tergolek Lemah di Pasar Kebayoran Lama

Masalah kedua yang diungkap adalah sistem proteksi dini kebakaran yang telah terpasang di banyak tempat, nyatanya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Alarm kebakaran yang bisu, hidran yang kering, atau alat pemadam api ringan (APAR) yang sudah kadaluarsa adalah beberapa contoh kegagalan sistem yang bisa berakibat fatal. Kondisi ini memperparah situasi, karena saat insiden terjadi, sistem yang seharusnya menjadi garis pertahanan pertama justru tak mampu membantu.

Tantangan ketiga adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang terlatih dan mampu melakukan pemadaman pada tahap dini. Kemampuan masyarakat dan petugas gedung untuk merespons api secara cepat dan tepat sebelum membesar adalah kunci pencegahan bencana besar. Sayangnya, pengetahuan dan pelatihan mengenai hal ini masih sangat terbatas.

Peran Masyarakat: Pahlawan di Garis Depan

Di balik data yang mencengangkan tersebut, Gubernur Pramono Anung menyisipkan catatan positif dan apresiasi. Dari total 1.195 kejadian, sebanyak 267 insiden berhasil diatasi langsung oleh masyarakat sebelum petugas pemadam kebakaran tiba. Angka ini menunjukkan peran serta aktif warga Jakarta yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Saya sebagai Gubernur Jakarta sungguh-sungguh menyampaikan terima kasih dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar terus ditingkatkan untuk memastikan penanganan kebakaran dilakukan secara cepat, aman, dan efektif,” kata politikus PDIP tersebut.

Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Gotong royong menjadi nilai esensial dalam menciptakan Jakarta yang lebih tangguh menghadapi bahaya kebakaran.

Langkah Ke Depan: Integrasi Teknologi, Pelatihan, dan Infrastruktur

Lantas, apa yang harus dilakukan? Pernyataan Pramono Anung adalah sebuah sinyal untuk melakukan aksi korektif yang masif dan sistematis. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:

  1. Audit dan Pemeliharaan Infrastruktur Pemadam Kebakaran Secara Berkala: Setiap gedung, perkantoran, permukiman, dan fasilitas publik harus dipastikan memiliki sistem proteksi kebakaran yang aktif dan terawat. Pemerintah Provinsi dapat memperkuat pengawasan dan sanksi untuk hal ini.

  2. Pelatihan SDM secara Masif dan Berkelanjutan: Tidak hanya untuk petugas Gulkarmat, tetapi juga untuk satpam, pengelola gedung, karang taruna, dan masyarakat umum. Pelatihan pemadaman api dini, evakuasi, dan penggunaan APAR harus menjadi program yang mudah diakses.

  3. Pemanfaatan Teknologi: Integrasi teknologi seperti sistem peringatan dini berbasis IoT (Internet of Things), drone pemantau titik panas, dan aplikasi pelaporan kebakaran dapat mempercepat respons.

  4. Penataan Kawasan Permukiman Padat: Banyak kebakaran berawal dari permukiman padat dengan akses jalan yang sempit. Penataan kawasan dan sosialisasi tentang bahaya korsleting listrik dan kelalaian dalam menggunakan kompor menjadi program preventif yang vital.

  5. Memperkuat Regulasi: Evaluasi dan penguatan peraturan daerah terkait standar keselamatan kebakaran untuk semua jenis bangunan.

Cermin Tanggung Jawab dan Komitmen

Pernyataan Pramono Anung patut diapresiasi sebagai bentuk transparansi dan tanggung jawab pemimpin. Daripada menyembunyikan data, ia justru menjadikan angka 1.195 kebakaran tersebut sebagai alarm pengingat bagi semua pihak bahwa pembenahan harus dilakukan secara bersama-sama.

Jakarta sebagai megapolitan dengan segudang kompleksitas masalah memang tidak akan pernah selesai dibenahi dalam semalam. Namun, pengakuan terhadap masalah adalah langkah pertama yang benar. Kini, semua mata tertuju pada langkah konkret berikutnya. Kolaborasi antara Pemprov DKI, jajaran Gulkarmat, dan seluruh lapisan masyarakat adalah satu-satunya kunci untuk memastikan bahwa angka 1.195 tidak terus membengkak di tahun-tahun mendatang, dan Jakarta menjadi kota yang lebih aman untuk ditinggali.

Indosat